Pertemuan 5 - Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial
1. Dinamika Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah tindakan yang terjadi antara dua orang atau lebih yang saling menentukan arah, tujuan dan cara tindakan kedua belah pihak. Menurut (Gillian et al., 1984), terdapat dua jenis interaksi yakni interaksi yang bersifat asosiatif dan interaksi yang bersifat disosiatif. Proses interaksi yang asosiatif adalah suatu bentuk proses sosial yang mempersatukan mereka yang berinteraksi. Sedangkan proses interaksi disosiatif adalah suatu bentuk proses sosial yang memecah mereka yang berinteraksi.
Mark L. Knapp dalam bukunya Social Intercourse: From Greeting to Goodbye (Knapp, 1978), menjelaskan proses interaksi asosiatif diawali dengan tahap memulai (initiating, menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating), dan mempertalikan (bonding). Sedangkan proses interaksi yang disosiatif diawali dengan tahap membeda-bedakan (differentianting), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating).
- Bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif, di antaranya:
- Kerja sama (Co-operation)
Bentuk interaksi sosial kerja sama biasanya timbul karena adanya suatu tujuan yang sama dari setiap orang yang berinteraksi, dan mereka merasa akan dapat lebih mudah dan lebih cepat apabila dilakukan secara bersama-sama. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya perlu ada sikap saling memahami dan memiliki kesadaran untuk mengendalikan diri. Misalnya, kerja sama dalam kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan.
- Akomodasi
Akomodasi dipandang sebagai suatu proses interaksi sosial yang bertujuan untuk menyelesaikan pertentanggan tanpa menghancurkan pihak lawan, dengan saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Misalnya, konflik antar-tetangga dan dilakukan mediasi melalui pihak pemerintah RT setempat.
- Asimiliasi dan akulturasi
Asimiliasi adalah suatu bentuk interaksi sosial yang ditandai dengan adanya usaha untuk mengembangkan sikap-sikap yang sama, dengan tujuan untuk mencapai kesatuan dan integrasi. Pada asimiliasi, kedua belah pihak yang berinteraksi melakukan peleburan unsur-unsur kebudayaan sehingga menghasilkan pola-pola adat istiadat dan integrasi sosial baru yang mereka miliki bersama. Sementara itu, akulturasi terjadi apabila interaksi sosial tersebut tidak diusahakan untuk meleburkan dua perbedaan jadi satu, tetapi justru pihak yang satu mengambil pola-pola adat istiadat dan interaksi yang dimiliki pihak lain, untuk dijadikan sebagai kebiasaan baru.
- Bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif, di antaranya:
- Persaingan
Persaingan atau kompetisi dapat diartikan sebagai suatu bentuk interaksi ketika setiap individu atau kelompok yang saling berusaha mendapatkan perhatian, penghormatan, pengakuan dan sebagainya, lebih baik dibandingkan individu atau kelompok yang lain. Bentuk-bentuk persaiangan di antaranya adalah persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peran, dan persaingan ras.
- Kontravensi
Kontravensi atau pertentangan adalah suatu bentuk interaksi sosial yang didasarkan atas sikap yang tersembunyi dari satu atau dua pihak yang berinteraksi, yang dapat berubah menjadi suatu kebencian, akan tetapi tidak menjadi suatu konflik. Misalnya, interaksi sosial antara dua orang atau kelompok yang saling memperdebatkan suatu pendapat atau perilaku yang mereka anggap benar.
- Konflik
Konflik atau pertikaian adalah suatu bentuk interaksi sosial manakala seorang atau kelompok berusaha mencapai atau memenuhi tujuannya dengan jalan menantang orang atau kelompok lain dengan berbagai cara, seperti ancaman, hujatan, celaan, dan tindakan kekerasan. Misalnya, konflik antarsuku bangsa, konflik antarkampung, konflik rumah tangga.
2. Dilema Kepentingan Antara Kepentingan Individu dan Kepentingan Masyarakat
Sebagai individu, manusia memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial, manusia dihadapkan pada perannya untuk membentuk suatu kelompok, dan berinteraksi dengan baik dalam ikatan masyarakat. Kondisi dihadapkannya manusia pada pilihan atas kepentingan individu dan kepentingan masyarakat bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini kemudian menyebabkan seseorang mengalami konflik peran, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingan kepentingan individu. Pada saat seseorang memilih untuk kepentingan masyarakat, pada saat yang sama ia harus dapat menerima kerugian yang disebabkannya sendiri. Sementara itu, pada saat ia lebih memilih mengutamakan kepentingan pribadi, saat yang sama pula ia harus dapat menerima sanksi sosial dari masyarakat di lingkungannya.
Pada saat manusia dihadapkan pada kepentingan individu dan kepentingan masyarakat secara bersamaan, yang dilihat adalah mana yang harus lebih diutamakan. Mana yang pada saat itu lebih penting untuk didahulukan. Dalam kondisi ini, seseorang butuh melibatkan akal dan hati nuraninya untuk memilih. Apapun yang menjadi pilihannya tentu ada konsekuensi yang perlu ditanggung. Apapun yang kita pilih, dampaknya tidak hanya berimplikasi ke diri kita sendiri, tetapi juga kepada orang-orang lain di sekitar kita. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan akal dan budi pekerti kita serta tanggung jawab sosial kita pada orang lain di sekitar kita, pada saat kita dihadapkan pada pilihan antara kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok (sosial).