Materi Utama Video Course

Pertemuan 4 - Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

​​​​​​1. Hakikat Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial

            Sebagai individu manusia memiliki pola kelakuan manusia. Pola kelakuan manusia (pattern of behavior), menurut para ahli anropologi, sosiologi, dan psikologi, berbeda dengan pola tindakan manusia atau pola tingkah laku (patterns of action). Saat membicarakan tentang pola kelakuan manusia, maka yang menjadi intinya adalah tentang kelakuan dalam arti yang khusus, yaitu kelakuan organisme manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks-refleks, dan berbagai kelakuan yang tidak dipengaruhi oleh akal jiwanya. Hal ini berkaitan dengan kepribadian, yang oleh Koentjaraningrat, ia melihat personality sebagai susunan akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan tiap-tiap individu manusia (Nurdien Harry Kristanto, 2017).

            Berbagai faktor turut mempengaruhi kepribadian manusia terkait dengan perkembangan dan kecenderungan tingkah laku manusia, yaitu warisan biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, pengalaman kelompok, dan pengalaman unik (Horton, 1985; Hunt, 2010). Secara umum, kepribadian manusia memiliki beberapa unsur, yang mengisi akal dan jiwa manusia secara sadar dan nyata terkandung dalam otak manusia, yakni sebagai berikut:

  1. Pengetahuan yang diperoleh manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar;
  2. Perasaan yang bersumber dari alam sadar manusia dan mengandung bermacam unsur penilaian dan kemudian menghasilkan kehendak;
  3. Dorongan naluri, yang terkandung dalam kepribadian manusia, seperti dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan seks, dorongan untuk mencari makan, dorongan untuk berinteraksi dengan sesama manusia, dorongan untuk meniru orang lain, dorongan untuk berbakti, dan dorongan akan keindahan.

            Sebagai makhluk sosial, manusia dihadapkan pada sebuah keharusan untuk melakukan suatu tindakan sosial. Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain. Dalam tindakan sosial, kita melakukan transfer simbol kepada orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada saat yang sama, kita melakukan apa yang selanjutnya disebut sebagai interaksi sosial.

            Dalam batasan konsepnya, interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan antara individu satu dengan individu yang lain. Individu yang satu dapat mempengaruhi individu lain ataupun sebaliknya, sehingga terjadi hubungan timbal-balik. Akan tetapi, karena manusia biasa hidup berkelompok maka konsep interaksi sosial bukan hanya berlaku pada hubungan antarindividu, melainkan juga antara individu dengan kelompok dan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.

​​​​​​​2. Fungsi dan Peran Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial

            Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Manusia diberi potensi dan kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri. Disadari atau tidak, manusia akan senantiasa menggunakan kemampuan pribadinya untuk memenuhi hakikat individunya. Sebagai individu, manusia memiliki peran yang harus ia jalankan. Sebagai individu, manusia memiliki peran untuk memenuhi segala kebutuhan dirinya sendiri, antara lain:

  1. Peran manusia dalam kebutuhan jasmaninya, seperti peran terhadap kebersihan dan kesehatan badan dan peran terhadap terpenuhinya akan kebutuhan sandang, pangan, dan papan;
  2. Peran manusia dalam kebutuhan rohaninya, seperti peran terhadap kebutuhan akal dan pikiran, peran terhadap hati nurani, dan peran terhadap pengendalian nafsu.

            Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas, namun tidak sepenuhnya bebas. Jean-Jacques Rousseau dalam pandangannya di  buku The Social Contract, mengatakan bahwa “man is born free, and everywhere he isi chains” (Rousseau, 1964, 2017). Artinya, manusia itu memang pribadi yang bebas, namun ia selalu terbelenggu di mana-mana. Dalam hal ini, sebagai individu, manusia juga adalah makhluk sosial yang dihadapkan perannya dalam masyarakat. Perannya erat kaitan dengan hak dan kewajiban, di mana ia tidak hanya menuntut hak, melainkan juga harus menjalankan kewajibannya sebagai makhluk sosial.

            Sebagai makhluk sosial, manusia juga harus dapat memiliki keterampilan sosial yang baik dalam hubungannya dengan manusia lain. Libet & Lewinsohn, (1973) mengemukakan bahwa keterampilan sosial sebagai kemampuan yang kompleks, untuk menunjukkan perilaku yang baik dan akan dinilai secara positif atau negatif oleh lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan punishment oleh lingkungan tempat ia  tinggal (Lewinsohn & Libet, 1972). Sementara itu, menurut Morgan (1983) keterampilan sosial adalah kemampuan untuk menyatakan dan berinteraksi secara positif dengan orang lain. Keterampilan sosial juga diartikan sebagai kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan keinginan lingkungan sosial dan menghindari perilaku negatif dari berbagai konteks sosial.

            Ada beberapa bentuk keterampilan sosial menurut Gresham & Reschly (1987), yakni sebagai berikut:

  1. Perilaku interpersonal, yaitu perilaku yang menyangkut keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi sosial atau dengan kata lain keterampilan menjalin persahabatan.
  2. Perilaku yang berhubungan dengan diri sendiri, yang merupakan cirid dari seseorang yang mengatur dirinya sendiri dalam situasi sosial, seperti keterampilan menghadapi stress, memahami perasaaan orang lain, mengontrol kemarahan dan sebagainya.
  3. Perilaku yang berhubungan dengan kesuksesan akademis sebagai perilaku yang mendukung prestasi belajar di sekolah, seperti mendengarkan guru, mengerjakan pekerjaan sekolah denga baik, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.
  4. Penerimaan teman sebaya, yang berdasarkan bahwa individu yang memiliki keterampilan sosial rendah akan cenderung ditolak oleh rekan-rekannya karena tidak dapat bergaul dengan baik. Perilaku yang menunjang penerimaan teman sebaya dapat dilakukan seperti memberi dan menerima informasi, dapat menangkap dengan tepat emosi orang lain, dan sebagainya.
  5. keterampilan berkomunikasi, yang sangat diperlukan untuk membangun hubungan sosial yang baik, berupa pemberian umpan balik dan perhatian terhadap lawan bicara, dan menjadi pendengar yang responsif.