Pertemuan 3- Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya
1. Tantangan Budaya Populer
Berbagai macam tantangan budaya populer saat ini mencerminkan adanya persoalan dalam kebudayaan dan bagaimana masyarakat menyikapinya. Beberapa konsep yang muncul sebagai tantangan dan permasalahan budaya, di antaranya etnosentrisme, prejudis, dan diskriminasi.
- Etnosentrisme
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk memandang budaya diri sendiri lebih baik dibanding yang lain, serta penggunaan standar dan nilai sendiri untuk menilai orang-orang yang bukan anggota kelompoknya (Arifin et al., 2025). Seorang yang etnosentris melihat budayanya sebagai yang paling benar dan agung, serta lebih pantas, bila dibandingkan dengan yang lain. Etnosentrisme yang berlebihan dapat mendorong adanya kesalahpahaman dan konflik.
- Prejudis
Prejudis adalah sikap yang menilai lebih rendah sebuah kelompok karena asumsi tentang perilaku, nilai, dan kebiasaan kelompok tersebut (Nurjono et al., 2024). Sikap prejudis umumnya didukung oleh kepemilikan stereotipe, yakni ide tidak baik yang dimiliki oleh seseorang tentang sekelompok masyarakat.
- Diskriminasi
Konsep lain yang dipelajari untuk memahami permasalahan kebudayaan adalah diskriminasi. Diskriminasi adalah praktik yang menciderai sebuah kelompok budaya dan anggotanya, dengan menempatkan pemilahan atau kriteria tertentu yang tidak dipenuhi oleh kelompok tersebut (Dewantara et al., 2024; Nurwansyah & Hidayat, 2024).
2. Problematika Kebudayaan Indonesia
Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman budaya yang kaya, sering kali menjadi sorotan dalam perbincangan masyarakat. Perkembangan zaman dan globalisasi membawa tantangan tersendiri terhadap pemertahanan budaya. Perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membawa dampak signifikan terhadap budaya lokal di Indonesia. Masyarakat cenderung lebih mudah terpapar budaya luar negeri melalui media sosial, film, dan musik. Hal ini dapat mengancam keberlangsungan budaya lokal yang merupakan bagian integral dari identitas bangsa.
Permasalahan kebudayaan yang terjadi di Indonesia, dimunculkan oleh penyebaran budaya lokal, yang ditandai oleh tiga hal berikut.
- Ekonomi global yang merujuk pada peredaran barang secara global melalui perdagangan internasional. Dalam hal ini, ekonomi global telah mendorong penyebaran berbagai barang dan jasa ke seluruh dunia;
- Adanya komunikasi global melalui jaringan internet dan satelit, sehingga hubungan komunikasi antarbangsa dan antarnegara dapat terjalin dengan mudah;
- Migrasi global, yang ditunjukkan dengan meningkatkan kecanggihan teknologi transportasi dan daya beli masyarakat, membuat penduduk dunia dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di seluruh penjuru dunia.
Budaya global membantu orang-orang di seluruh dunia terhubung dengan baik. Namun demikian, penyebaran budaya global juga memunculkan berbagai persoalan. Pertama, peredaran barang secara global lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di perkotaan, sementara orang-orang di daerah pedalaman dan terpencil masih banyak yang terisolasi. Juga kelompok orang yang memonopoli pasar global dapat menjadi ganjalan bagi pelaku pasar tradisional untuk meningkatkan ekspansi pemasaran barang dan jasanya.
Kedua, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menikmati berbagai barang dan jasa yang tersebar melalui perdagangan internasional. Masih banyak orang di berbagai negara hidup dalam kemiskinan dan tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ketiga, sekalipun banyak kesempatan bagi penduduk dunia untuk mengenali berbagai macam kebudayaan, salah satunya lewat media elektronik TV atau berita online, hal ini tidak bisa menjamin mereka menerapkan relativisme budaya. Misalnya, banyak orang di daerah lain di Indonesia, khususnya d kota-kota besar, mengenal tenun ikat dari Flores sebagai kekayaan tradisional masyarakat Flores dengan bahan baku alami, namun mereka belum tentu paham dengan baik filosofi kain tenun ikat dan pentingnya kain tenun itu sebagai salah satu sumber mata pencaharian banyak orang perempuan Flores pada umumnya.